Kamis, 05 Mei 2011

Kreativitas

         Manusia kreatif karena manusia diciptakan Allah sang kreator yang maha segalanya, ia dibekali dengan  dua belahan otak yang kiri dan yang kanan, masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Yang kiri, berpikir logis, matematis, sintesis dan linier, sedangkan yang kanan berkemampuan berpikir seni, emosi dan lateral dan jika keduanya saling berkomunikasi maka jadilah ia manusia yang kreatif.
        Kreativitas atau daya cipta memungkinkan penemuan-penemuan baru dalam bidang  ilmu dan teknologi, serta dalam semua bidang usaha manusia lainnya, demikian Munandar, Utami (2004:6). Selanjutnya beliau mengatakan bahwa ditinjau dari aspek kehidupan manapun, kebutuhan akan kreativitas sangatlah terasa.
        Kemajuan teknologi yang meningkat di satu pihak dan ledakan penduduk disertai berkurangnya persediaan sumber-sumber alami di lain pihak, lebih-lebih lagi menuntut adaptasi secara kreatif dan kemampuan untuk mencari pemecahan yang imajinatif.
        Salah satu masalah yang selalu menarik perhatian para pakar dan masyarakat pada umumnya ialah hubungan antara intelegensi dan kreativitas. Apakah orang yang intelegensinya tinggi juga kreatif, atau apakah orang yang kreatif selalu mempunyai intelegensi yang tinggi?
        Dalam masa sekarang dengan kemajuan dan perubahan yang begitu cepat dalam bidang teknologi dan ilmu pengetahuan, guru sekolah minggu sebagai pendidik non formal tidak mungkin dapat meramalkan dengan tepat macam pengetahuan apa yang akan dibutuhkan seorang murid sekolah minggu untuk dapat menghadapi masalah-masalah kehidupan apabila ia dewasa.
        Oleh karena itu sebagai guru sekolah minggu ia dituntut untuk dapat mengajar dan mendidik murid-muridnya secara kreatif, karena guna kreativitas adalah untuk memecahkan masalah-masalah terutama adalah masalah kehidupan. Kreativitas guru sekolah minggu dalam pembelajaran akan besar manfaatnya karena menjadikan pembelajaran menarik, tidak membosankan, dan menimbulkan rasa keingintahuan murid.
        Gereja membutuhkan guru-guru sekolah minggu yang mampu mengajar dengan kreatif dan menarik, karena dalam abad ini kita sedang menerapkan proses belajar-mengajar KBK  (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Gereja harus menemukan paradigma baru untuk mengantisipasi perubahan dan tantangan baru, oleh karena itu dituntut kreativitas pendidik agar betul-betul mampu merespons kebutuhan, mengembangkan metode dan pendekatan masalah secara relevan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
        Sekian lama pengajaran agama Kristen dirasakan sarat dengan muatan kognitif (pengetahuan), sedangkan ranah afektif (penghayatan) dan psikomotorik (keterampilan tingkah aku) masih sangat kurang, padahal dalam pendidikan agama, dua ranah tersebut amat penting untuk diterapkan dan bahkan dikembangkan.
        Sementara, pendekatan yang selama ini ditempuh adalah tekanan pada biblical approach atau pendekatan alkitabiah yang mengutamakan pengetahuan Alkitab, dengan banyak menghafal ayat dan perikop tertentu dan murid sekolah minggu ‘sepertinya’ wajib mengetahui banyak fakta, kutipan, cerita dan sejarah Alkitab.Ternyata hal tersebut tidak dapat dipakai untuk memecahkan masalah rumit dalam aras pribadi dan masyarakat, sehingga perlu diimbangi dengan pendekatan lain yang lebih komprehensif.
        Pendekatan PAK dalam KBK lebih memakai pendekatan life center approach, karena pendekatan ini lebih mengutamakan perkembangan peserta didik sebagai pribadi yang utuh ketimbang menyampaikan sejumlah keterangan kepada mereka. PAK yang dimulai dari jenjang pendidikan prasekolah sampai perguruan tinggi perlu dilakukan sesuai dengan tingkat perkembangan psikologis peserta didik.
        Model pengajaran kreatif ini dimaksudkan agar materi yang disampaikan betul-betul dapat diresapi, dihayati, dan diamalkan (bukankah kita dituntut tidak hanya menjadi pendengar firman, melainkan menjadi pelaku firman!). Sebagaimana penulis kutip laporan dari UNESCO yang berjudul Learning The Treasure Within yang mengidentifikasi empat pilar  pendidikan, yaitu:   (1) belajar untuk mengetahui (learing to know); (2) belajar untuk melakukan (learning to do); (3) belajar menjadi diri sendiri (learning to be); (4) belajar hidup bersama (learning to live together).
        Ke empat pilar pendidikan yang dirumuskan oleh UNESCO itu tidak hanya penting diterapkan di dunia pendidikan sekuler, akan tetapi terlebih pada pendidikan moral keagamaan. Sikap saling menghargai kepada sesama, seperti yang telah difirmankanNya, membebaskan kita dari perbedaan suku, agama, ras, antarkelompok, dan pendidikan  agama seharusnya dapat memberikan kontribusinya secara positif dan bermakna. Tuhan itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikanNya. (Maz. 145:9).
        Kebaikan Tuhan kepada manusia itulah yang harus diimbangi dengan kesiapan manusia untuk mengoptimalkan segala kemampuannya dalam berpikir dan bertindak demi kemaslahatan seluruh umat manusia. Demikian juga dengan peran seorang guru sekolah minggu, ia mengajar dan mendidik anak manusia sejak dini usia. Ibarat sebuah bangunan, ialah peletak dasar (pondasi) sebuah bangunan, yaitu ‘bangunan kehidupan’, oleh karenanya harus kokoh kuat sehingga mampu menopang dan tahan terhadap segala situasi dan kondisi termasuk kemajuan di bidang teknologi dan informasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar